Karya : sony irawan
Tokoh-tokoh :
1.
Furqan (a)
2.
Anisa (b)
3.
Reyhan (c)
4.
Aisyah (d)
5.
Gilang (e)
6.
Lukman (f)
7.
Reza (g)
8.
Satria (h)
9.
Mona (i)
10.
Lisa (j)
ADEGAN 1
Setting : Koridor-Kelas
(Arkan berjalan dari pepustakaan menuju
ruang lab komputer . Dalam perjalanan, Arkan disapa oleh anak-anak.)
Gerombolan cewek : “Hei, Arkan….”
(Arkan membalasnya dengan senyum
terpaksa. Beberapa langkah kemudian ia disapa oleh Gilang, tiada lain adalah
sahabatnya sendiri.)
Gilang : “Arkan!”
Arkan : “Eh bro, ada apa nih?”
Gilang : “Nanti pulang sekolah, aku
ingin bertanya soal Fisika ya? Waduh, aku tidak paham yang dijelasin oleh guru”
Arkan : “Insya Allah ya (tersenyum
akrab) Gilang, aku mau ke lab komputer yah.”
Gilang : “Mau ke siapa?”
Arkan : “Furqan” (beranjak pergi)
Gilang : “Oh ya mangga (logat jawa)
hus… hus….” (ledek Gilang)
(Arkan kembali melanjutkan
perjalanan ke lab komputer, di depan ruang kkpi terdapat geng kansas yang
diketuai oleh Reza, saat Arkan melewati mereka, Reza melirik sinis kepada
Arkan. Tetapi arkan tak menyadarinya. Dan saat memasuki lab komputer, dia
langsung menemui Furqan yang sedang membaca buku, disebelah Furqan ada Lukman
teman dekat Furqan yang sedang mengobrol dengan temannya)
Arkan : “ Assalamualaikum, Furqan…”
(mendekat Furqan dan duduk disamping meja Furqan)
Furqan : “Walaikumsalam, ada apa
Arkan?” (tersenyum ramah)
Arkan : “Gimana toh kabarmu?”
Furqan : “Baik.”
Arkan : “Aku kesini mau minta
pendapat kamu, boleh?
Furqan : “Pendapat tentang apa,
Arkan?”
(Diluar pintu, Anisa yaitu gadis
berjilbab yang soleh se sekolah, lewat dengan teman-temannya dengan anggun.
Arkan menatap Anisa. Furqan melihat apa yang sedang dilihat Arkan kemudian
tersenyum dan menyadarkan Arkan)
Furqan : (melambaikan tangan depan
wajah Arkan) “Minta pendapat tentang gadis itu toh? Hehe”
Arkan : “Eitt, apaan… Nggak kok,
bener…” (salah tingkah sembari tertawa)
Furqan : “Oalah, yang bener?” (ledek
Furqan)
(Arkan dan Furqan tertawa akrab)
ADEGAN 2
Setting : Kelas
(Jam ulangan Biologi, yang bimbing
adalah Bapak Rudianto. Pak Rudi setelah membagikan soal, seketika langsung
duduk di kursi guru dan lama-lama ketiduran. Anak-anak langsung ber-aksi,
mereka saling mencontek, ada yang buka buku, tanya teman, dan melihat contekan
dalam selembar kertas. Yang tetap tertib hanya tiga orang, Furqan, Anisa, dan
teman Anisa yaitu Reyhan. Mereka duduk dibangku depan. Sebelum bel pulang
sekolah mereka telah menyelesaikan soal ulangan dengan rasa bangga. Bel pulang
pun berbunyi, Pak Rudi terkejut)
Pak Rudi : “Gimana ulangannya? Sudah
selesai semuanya?
Anak-anak : “SUDAH PAK……!!!!”
(kompak)
Pak Rudi : “Kalian memang pintar.
Sekarang soal dan jawaban harap dikumpulkan. Dan PULANG…..”
ADEGAN 3
Setting : Kantin
(Arkan sedang memakan Bakso dan
Gilang hanya meminum es teh sembari konsen pada buku Fisikanya)
Gilang : “Arkan, ini caranya
bagaimana?” (menyodorkan buku)
Arkan : “Ouw, ini… kita lihat
contohnya…” (dijelaskan)
Gilang : “Hah???Cuma gini tok??
Daning gampang?” (meremehkan)
Arkan : “Kalau mau belajar, pasti
kamu bisa kok. Banyak-banyak latihan soal saja. Kalau kamu tidak paham, Tanya
ke aku saja.”
(Lisa, cewek favorit disekolah
dating menghampiri Arkan dan Gilang)
Arkan : “ssutt… ssutt….(kepada
Gilang) tuh cewek yang kamu taksir, datang!”
(Lisa melambaikan tangan.. Arkan
membalas dengan senyuman, Gilang dengan lambaian tangan)
Gilang : “oalah dia lambaikan tangan
buat aku…” (GR)
Arkan : “Bukan buat kamu, tapi kita
berdua.”
(Lisa duduk di sebelah Arkan)
Lisa : “Belum pada pulang?”
(tersenyum anggun)
Arkan : “Kita lagi belajar Fisika.”
(balas tersenyum)
Lisa : “Belajar? Ouw, menghitung
gaya pada bakso ya?” (ledek Lisa)
Arkan : “Ah Lisa ada-ada saja, aku
sekalian makan siang”
Lisa : “Ouw…” (tersenyum)
Arkan : “Lah kamu?kenapa belum
pulang?”
Lisa : “Aku janjian sama teman di
kantin.”
Arkan : “ouw…”
(Arkan melirik Gilang yang sedang
menatap Lisa dengan mulut mangap, Arkan menendangi kaki Gilang tanda
menyadarkannya)
Arkan : “Hempp, kayanya kita sudah
selesai, kita pulang dulu ya. Ayo Gilang?”
Gilang : “O…oh… iya..iya… kita..
kita-kita pulang dulu” (salah tingkah)
Lisa : “hati-hati ya, guys!!!”
(Mereka pergi meninggalkan Lisa,
Arkan tersenyum melihat Gilang. Gilang pergi dengan mulut mangap)
ADEGAN 4
Setting : Mushola
(Furqan mengambil air wudhu, setelah
usai, Anisa dan Reyhan lewat dihadapannya. Furqan tersenyum, Anisa dan Reyhan
membalasnya dengan senyum. Di dalam Mushola ada Lukman yang menunggu berjamaah)
Lukman : “Kamu imam ya.”
Furqan : “Qamat” (memerintahkan
Lukman Qamat)
Luman : (mengumandangkan Qamat)
(di Mushola hanya ada 4 orang,
Furqan, Lukman, Anisa dan reyhan. Mereka shalat berjamaah. Selesai sholat,
Furqan dan lukman berbincang-bincang di teras Mushola. Anisa dan reyhan
melihatnya. Dan saat keluar dari Mushola mereka mengobrol)
Reyhan : “Furqan dan Lukman, mereka
sangat soleh. Aku sungguh kagum dengan mereka.”
Anisa : “Iya, Rey. Kamu ingat pada
saat Furqan mendapatkan beasiswa pendidikan gratis ke Australia ? Dia lebih
mengutamakan merawat almarhumah ibunya yang pada saat itu sedang sakit keras.
Walaupun ada pembantu yang akan merawat ibu dan ibunya pun mengizinkan Furqan
mengambil beasiswa, dia tetap teguh untuk merawat ibunya, yang tiada lain
satu-satunya keluarga Furqan.” (kagum)
Reyhan : “Berita wafat ibunya,
membuat kita semua ikut merasakan kesedihan Furqan. Betapa tidak? Selain kehilangan
beasiswa dia juga kehilangan seseorang yang amat berharga baginya. Dan sekarang
dia hidup sendiri dengan hasil uang warisan yang tak seberapa.”
Anisa : “Tetapi keputusan ia, adalah
keputusan yang tepat.” (tersenyum)
Reyhan : “Kita doakan saja, ya…”
ADEGAN 5
Setting : Ruangan anak nongkrong
(Gerombolan Geng Kansas yang terdiri
dari 4 orang cowok. Reza, Satria, Robby, dan Roni)
Satria : “Men, tadi gue lihat, si
Arkan ngobrol sama si Lisa, mesraaaaaaa bgt skl…!”
Mona : “Gila si Arkan! Cari masalah aja
tuh anak.”
Roni : “Cewek yang lu incer, malah
digodain sama cowok lain, bos..” (kepada Reza)
Mona : “Kita kasih pelajaran aja tuh
anak! Biar Kapok!!!”
Satria : “Pelajaran?? Benar tuh..
Gimana kalo pelajaran Fisika? Susah banget tuh”
Mona : “Bukan pelajaran itu, oon..!”
Reza : “Tenang men.. Liat saja
tanggal mainnya.” (sinis licik)
Satria : “Main? Jangan bilang kalo
mau main petak umpet?”
Mona : “siapa yang mau bilang itu??
Oon..!”
Satria : “Iya, maaf-maaf…”
Mona : “Lalu rencana kita apa bos?”
Reza : “Dia orang yang paling gue
benci di sekolah ini. Gue eneg liat dia so artis, so kecakepan! Liat saja, gue
bakal bikin dia jadi sampah!” (senyum licik)
Mona : “Gimana caranya bro?”
(Reza menceritakan ide-nya untuk
menyerang Arkan kepada yang lain)
Satria : “Wuih, bagus tuh..”
Mona : “Yo’i, gue setuju cara lo..”
Satria : “Eyauld…”
Reza : “Tujuan kita, membuat dia
jadi sampah!”
Semua : “Ok bos!”
ADEGAN 6
Setting : Kelas
Pak Rudi : “Anak-anak, hasil ulangan
kemarin sudah saya koreksi dan saya nilai. Dan herannya kalian tidak ada yang
di remidi. Beda sekali pada saat UHB kemarin, hanya ada 3 orang yang lulus.”
Siswa1 : (berbisik pada temannya)
“Ya iyalah, masa ya iya donk.. Duren aja dibelah masa dibedonk.”
Pak Rudi : “Siswa1, ada apa. Kenapa
ngomong duren. Saya jadi lapar.” (bicara dengan irama datar)
(anak-anak menahan tawa )
Siswa1 : “Oh ga apa-apa, Pak. Duren
itu enak ya, Pak?” (berbicara tanpa dosa alias sekenanya)
Pak Rudi : “Iya-iya enak… (tertawa)
Loh, kok bahas duren? Kita tidak membahas lagu Julia Peres, loh..”
(anak-anak tertawa)
Pak Rudi : “Sudah-sudah, diam
semuanya. Saya lanjutkan yang tadi.”
(semua terdiam perlahan)
Pak Rudi : “Tadi sampai mana ya?”
(anak-anak tertawa kembali)
Siswa2 : “Julia Peres, Pak.” (ledek
siswa2)
Pak Rudi : “Hus ah,, apa ya? (berpikir)
oh ya, saya ingat… ULANGAN.”
(anak-anak masih ada yang tertawa)
Pak Rudi : “SStt… jangan berisik.
Saya lanjutkan lagi. Jawaban kalian memang sungguh sempurna, jawaban dengan
panjang lebar. Mungkin karena pikiran kalian sama semua. Hahaha… Ya, silahkan
tepuk tangan untuk diri sendiri..”
(semua bertepuk tangan dengan
meriah)
Pak Rudi : “Karena nilai kalian
bagus-bagus, kalian akan dapat hadiah dari saya.”
Siswa1 : “Buat saya saja pak, hihi.”
(cengengesan)
(semua siswa menyoraki Siswa1)
Pak Rudi : “Semua siswa harus
kebagian, kalian semua ingin hadiah toh?”
Semua : “IYAAA, PAK…”
Pak Rudi : “Beneran toh kalian ingin
dapat hadiah?” (tanya dengan meyakinkan)
Semua : “IYAAA PAK….”
Pak Rudi : “Ok, hadiah kalian adalah
ditambahnya soal menjadi 65 soal untuk UHB berikutnya. Setuju toh?”
Semua : “IYAAA, PAK….”
Pak Rudi : “Anak pintar”
Semua : (baru menyadari)
“APAAAA?????”
(Semua gadih dan saling menyalahkan)
Pak Rudi : “Ayo kita mulai pelajaran
Biologi!” (semangat)
(semua siswa kecuali Furqan dan
Anisa lemas di tempat duduknya masing-masing)
Pak Rudi : “Hei… hei… hei…. Jangan
terlalu senang, santai saja anak-anak” (bicara dengan enteng)
ADEGAN 7
Setting : Kelas-Koridor
(Bel pulang sekolah berbunyi. Di
koridor kelas, Furqan berjalan dengan Lukman sembari membawa tas. Furqan
melupakan sesuatu)
Furqan : “Lukman, kamu pulang diluan
saja. Aku mau ambil buku kimia. Kebawa sama Satria.”
Lukman : “Ok” (meninggalkan Furqan)
Furqan : “Hati-hati ya!”
(Sebelum memasuki kelas menemui
Satria, Furqan mendengar percakapan Geng Kansas yang mencurigakan)
Reza : “Ini tugas lo, yang numpahin
air ke seleting celana Arkan. Lu bilang aja, gak sengaja numpahin itu air! (Ke
satria) lalu, tugas lo, Mona. Lo ajak Arkan ngbrol untuk mengalihkan perhatian
dia. Dan saat Arkan keluar kelas, gue bakal sindir dia habis-habisan, ’oalah
mimpi basah toh, siang-siang gini!!’ Hahaha, mampus tuh anak!”
(Anggota Geng Kansas mengiyakan.
Furqan yang berada di balik pintu, menggelengi perilaku mereka)
Reza : “Ayo, kita beraksi!”
(Mereka keluar dari kelas, posisi
mereka berjalan seperti anggota F4 yang di Taiwan itu lohw. Satria menyapa
anak-anak cewek yang lewat sembari memegangi botol air. Setelah tiba di kelas
XI IPA 7, mereka melihat di dalam kelas terdapat, Arkan dan Gilang. Gilang
menunggu Arkan membereskan buku-buku. Sedangkan Mona beraksi masuk kedalam
kelas)
Mona : “Hai, Arkan, Hai Gilang! Mau
pada pulang ya?”
Gilang : “Iya.”
Mona : “Arkan, gue mau Tanya Fisika.
(menyodorkan buku) Ini gimana caranya?”
Arkan : “Oh.. ini. Ini memang cukup
sulit. Konsentrasi ya….” (dijelaskan)
(Satria masuk diikuti oleh Furqan,
ketika Satria mendekati Arkan, Furqan dengan cepat menyapa satria. Dan satria
terkejut, tanpa sengaja botol air itu tumpah ke celananya sendiri)
Gilang : “Waduh… hati-hati bro. Tuh
kan malah tumpah…!”
Satria : “Gue kaget tau!!!”
(Arkan menahan tawa, sedangkan Mona
heran dengan perilaku temannya yang gagal)
Furqan : “Maaf ya…! Aku mau Tanya,
kamu pinjam buku Kimia ku?”
Satria : “Tadi gue udah simpen di
kolong meja lu…!”
Furqan : “Ouw, ya sudah.. sekali
lagi maaf ya..!” (pergi)
Satria : “sialan” (berbisik pada
dirinya sendiri)
ADEGAN 8
Setting : Ruangan anak Nongkrong
Reza : “Sialan, kita gagal!!!”
Satria : “Maaf bro..” (bersedih)
Mona : “Oalah gak usah sedih lah..
kita kan bisa balas di lain kesempatan.. santai saja bro..”
Satria : “Bukan itu, masalahnya,,,”
(menunduk malu)
Mona : “Loh, memang ada apa apa
sih?”
Satria : “Celana gue men… tadi ada
anak yang ngeledekin gue. Katanya… , katanya… gue mimpi basah di siang bolong
gini…! Gue malu….!”
Reza : “Oalah coy (memberi celana
ganti) cepat ganti celana lu, sana…!”
Satria : “Thank ya” (pergi)
Mona : “Rencana awal kita gagal,
lalu gimana rencana selanjutnya?”
Reza : “DROP OUT.”
ADEGAN 9
Setting : Rumah
(Rumah Furqan yang kecil, sederhana,
tetapi sangat rapi. Dia hanya tinggal seorang diri. Terlihat Furqan sedang
memasak nasi goreng untuk makan malamnya, dan segelas teh untuk minumannya.
Setelah selesai, dia duduk untuk segera menyantapnya. Tiba-tiba perhatian dia
beralih ke hadapannya, yaitu kepada Fhoto kenangan bersama ibunya. Perlahan ia
mendekati dan mengambil Fhoto tersebut, tatapan penuh kerinduan ia keluarkan,
tangisan tetes demi tetes air mata tumpah ke kedua pipinya. Dia berusaha
menghapus kedua matanya, tetapi tak berhasil, kerinduannya meluap. Tangis
semakin menjadi-jadi, tangisan tanpa suara, hanya isak tangis yang terdengar.
Perlahan ia mencoba tersenyum menatap Fhoto kenangan itu. Dia berusaha untuk
menegarkan hatinya. Dan berakhir dengan kecupan manis kepada Fhoto tersebut.
Furqan kembali duduk untuk menyantap makanannya. Belum sempat menyantap
makanannya, ada yang mengetuk pintu dan seseorang mengucapkan
“Assalamualaikum”. Furqan dengan segera membukakan pintu, ternyata Arkan yang
datang bertamu sembari membawa sebungkus gorengan)
Arkan : “Assalamualaikum, Furqan..”
Furqan : “Arkan,, Waalaikumsalam..
Ayo masuk..” (mempersilahkan arkan masuk)
(masuk ke rumah, dan Furqan
mempersilahkan Arkan duduk di ruang tamu)
Furqan : “Malam-malam begini, ada
apa? Sudah pamitan sama orang tua belum?”
Arkan : “Hehehe, orang tuaku
membebaskan aku pulang kapan saja, asalkan aku tidak berbuat yang negative. Oh
ya, ini gorengan untuk kamu.” (memberikan sebungkus gorengan)
Furqan : “Oalah, gak usah
repot-repot kalo mau datang kesini… nanti bekal uangmu malah habis toh?”
Arkan : “gak apa-apa”
Furqan : “oh ya, aku barusan buat
nasi goreng, kita makan berama dulu. Lagian kayanya kamu belum makan”
Arkan : “Wah Furqan, kamu tau aja”
(Furqan tersenyum dan membagi
sepiring nasi goreng menjadi dua piring kecil ditambah gorengan hangat
pemberian Arkan. Furqan pun membuat segelas teh hangat. Furqan membawanya
dengan nampan)
Arkan : “waduh, malah aku yang
ngerepotin.”
Furqan : “Gak apa-apa, kita kan
diajarkan untuk saling menghormati tamu, sebagaimana menghormati dirinya
sendiri (tersenyum) Yuh, sambil dimakan”
(mereka mengobrol sembari makan)
Arkan : “Furqan, kalau kamu butuh
sesuatu, kamu bilang saja sama aku, selagi aku mampu, aku insya Allah akan
tolong.”
Furqan : “Makasih ya, semoga
keikhlasan mu diberi kebaikan dunia akhirat.”
Arkan : “Amin.”
(Furqan termenung sesaat, Arkan
menyadarinya)
Arkan : “Ada apa, Arkan?”
Furqan : “Aku rindu mereka.”
Arkan : “Siapa?”
Furqan : “Anisa”
Arkan : “Anisa???” (terkejut)
Furqan : “Ya bukanlah… Aku rindu
orang tua ku”
Arkan : “Insya Allah, mereka akan
selamat di Akhirat, karena mereka mempunyai anak yang soleh seperti kamu”
Furqan : “Insya allah, makasih ya
sobat, kalau aku tiada, jaga dirimu dengan baik. Hormati orang tua dan
teman-temanmu.”
Arkan : “Hei.. kita masih muda,
insya Allah kita masih diberi umur panjang.”
Furqan : “Kematian itu datang kapan
saja. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih.”
Arkan : “Furqan, ganti topik. Kamu
nyeremin sekali..”
Furqan : “Hehehehe… maaf-maaf..”
Adegan 10
Setting : Kelas
(Ruangan kelas ramai, guru tidak
masuk dan siswa diberi tugas. Yang mengerjakan hanya Furqan dan Anisa,
sedangkan yang lain sangat gaduh. Segerombolan cewek bahas Arkan, sedangkan
gerombolan cowok bahas Lisa)
Siswa Cewek : “Aduh cakep deh….!”
(melihat fhoto digenggamannya)
Siswa lain : “Siapa sih?paling
seleraa yu murahan.. hahahaha…”
Siswa Cewek : ”Enak saja..! Arkan,
bu… arkan…!”
Semua Cewek : ”Wah… mana-mana?? Mau
donk.. buat aku aja Fhotonya…” (genit)
Siswa Cewek : ”Weh enak aja!”
Siswa lain : “Arkan… (cengengesan)
udah pinter, keren, ramah pula.. hohohoho…”
(semua cewek tertawa centil)
(sedangkan siswa cowoknya)
Siswa 3 : “eh men, si Lisa.. oalah
t.o.p.b.g.t.s.k.l.coy!!”
Siswa 4 : “hei… (mengagetkan) gue
punya Fhotonya low….” (humor dan memperlihatkan fhoto)
(Semua cowok tertarik, dan ketika
mereka serempak melihat, ternyata Fhoto monyet berpose)
Semua Cowok : “huuuu… sialan lu..”
(menjitak kepala siswa 4)
(perilaku mereka dilihat oleh
Lukman, sejak dari tadi menggelengi perilaku anak-anak)
Lukman : ”Furqan, liat deh tingkah
anak-anak..”
Furqan : “Kenapa?”
Lukman : “Anak muda… ckckckck..”
Furqan : ”kalau begitu, kamu tua
donk? (cengengesan)
Lukman : ”Bukan begitu….”
Furqan : “Lalu bagaimana?”
Lukman : “Bagaimana ya?”
Furqan : ”bagaimana yang bagaimana?”
Lukman : ”Sudah deh, lupakan…”
(ngambek)
Furqan : ”hehehe… maaf, aku paham
kok!tiap hari mereka begitu toh?”
Lukman : ”Apa gak bosen ya?”
(Jeda sesaat melihat perilaku
anak-anak. Furqan mengalihkan pembicaraan)
Furqan : ”Oh ya, hari ini mau kumpul
teater?”
Lukman : ”pasti donk, Arkan juga
kayanya berangkat.”
Furqan : ”Nanti aku liat deh,
latiannya…”
Lukman : ”Kenapa gak ikut teater
sih?”
Furqan : ”Lebih baik menjadi
penonton.. hehe”
Lukman : ”Huuuu…”
Lukman : ”Huuuu…”
(Anisa melirik Furqan dengan
sembunyi-sembunyi)
Reyhan : “Nis, anter aku ke
toilet..”
Anisa : ”oh ya…”
(mereka keluar kelas)
Adegan 11
Setting : Koridor dan toilet
(saat di koridor menuju tangga
toilet, mereka berbincang)
Reyhan : ”Tingkah kamu akhir-akhir
ini aneh. Dan kamu sudah mulai jaraang curhat sama aku. Sebenarnya ada apa
Anisa? Aku kan sohibmu, ceritamu akan aku jaga, dan insya Allah aku akan kasih
solusi buatmu”
Anisa : ”Ada hal aneh dalam batinku,
janggal sekali.”
Reyhan : ”Kenapa?”
Anisa : ”Rasanya, Furqan…”
(ragu-ragu meneruskan)
Reyhan : ”Furqan? Ada apa dengan Furqan?”
(masuk toilet)
Anisa : “Aku khawatir dengannya.”
(berbicara sendiri)
(Anisa melihat sekitar kebun, sunyi,
senyap, tetapi damai. Tak berapa lama kemudian, Anisa melihat Genk Kansas di
daerah gudang.)
Reza : ”Kita jebak Arkan, pake ini”
(memperlihatkan sebungkus rokok dan bubuk narkoba) Kebetulan hari ini, anak IPA
7 pada olahraga”
(Genk Kansas dengan gerak cepat
memasuki kelas XI IPA 7, Anisa terus memperhatikan gerak-gerik mereka secara
bersembunyi. Di kejauhan Furqan melihat aksi Geng Kansas. Setelah Geng Kansas
selesai dan meninggalkan IPA 7, Furqan mendekati IPA 7 dengan sedikit berlari.
Anisa mengintip perilaku Furqan yang memasuki kelas IPA 7. Barang-barang milik
Kansas yang ditinggalkan di IPA 7, ia bawa dengan mimik khawatir. Dengan segera
Furqan membuangnya ke tong sampah. Furqan pergi, reyhan keluar toilet, Reyhan
heran memperhatikan tingkah Anisa)
Reyhan : ”Anisa? Kenapa?”
Anisa : ”sstt… cepat kesini…”
(berbisik)
Reyhan : ”Kenapa?” (berbisik)
Anisa : (melihat Furqan sudah pergi)
”ikuti aku…”
(Anisa mengajak Reyhan mendekati
tong sampah, Anisa mengambil sampah yang dibuang oleh Furqan)
Anisa : ”Astagfirullah… Reyhan lihat
ini.” (terkejut dan memperlihatkan bungkusan rokok dan narkoba)
Reyhan : (menutupi mulut dengan
tangan) ”Nis, ini kan…? (tak kalah kagetnya)
Anisa : ”Rokok dan narkoba”
Reyhan : ”Punya siapa ini?”
Anisa : ”Tadi aku lihat Furqan yang
membuang ini.”
Reyhan : ”Apaahh???” (sedikit
berteriak)
Anisa : ”Sssssttt…… Jengan berisik,
yang pasti ini bukan miliknya.”
Reyhan : ”lantas?”
Anisa : ”Geng Kansas, teman sekelas
kita”
Reyhan : ”KANSAS?” (berteriak)
Anisa : ”SSSTTTTTT… jangan
berisik!!!”
Reyhan : ”Kita harus laporkan ini ke
Kepala sekolah!”
Anisa : ”jangan, kita tak punya
bukti”
Reyhan : ”Laporkan saja ke polisi
dan sidik jari sebagai bukti”
Anisa : ” kalau begitu, terdapat
pula sidik jariku dan Furqan”
Reyhan : ”Lalu kita harus
bagaimana?”
Anisa : ”Untuk kali ini kita
biarkan, dan kita harus tanyakan ini semua pada Furqan.”
(membuang bungkus rokok dan narkoba
ke tong sampah lalu pergi dengan segera.)
Adegan 12
Setting : Perpustakaan
(Lukman, Furqan, Anisa, dan Reyhan
berjalan menuju perpustakaan. Tetapi Lukman pamit dan tidak dapat menemani
Furqan, Furqan mempersilahkan Lukman pamit. Setelah sampai diperpustakaan,
mereka duduk)
Anisa : (menunduk) ”Kami ingin
menanyakan sesuatu.”
Furqan : ”Mengenai apa?”
Reyhan : ”IPA 7, Geng kansas dan
kamu”
(Furqan terkejut)
Reyhan : ”Sebenarnya ada apa?”
Anisa : ”Aku yakin, kamu tak akan
berani berbohong.”
Furqan : ”maaf, aku tidak tahu
permasalahan ini.”
Anisa : ”BOHONG, lantas kenapa ada
rokok? Kenapa ada narkoba?” (sedikit berteriak)
(semua siswa-siswi yang ada di
perpustakaan melihat Anisa, Reyhan langsung mengalihkan perhatian yang lain)
Reyhan : ”Iya.. jadi narkoba itu
mengandung zat kimia yang dapat merusak sistem organ, tubuh manusia dan alkohol
juga sama dapat merusak sistem organ. Lalu bedanya apa? Aduh pelajaran kimia
pusing!”
(semua siswa-siswi kembali biasa)
Reyhan : (berbisik pada Anisa)
”Hufft, kalau bicara pelan-pelan saja,Nis. Nanti malah kedengaran orang!”
(Reyhan lega dan duduk kembali)
Anisa : ”tolong jawab pertanyaan ku,
Furqan.”
Furqan : ”Mereka ingin memfitnah
Arkan.”
Reyhan : ”Arkan?”
Furqan : ”Mereka memasuki barang itu
ke dalam tas arkan.”
Anisa : Mengapa mereka melakukan hal
itu?”
Furqan : ”Entahlah, yang pasti akan
aku cegah perilaku mereka.”
Adegan 13
Setting : ”Ruangan anak nongkrong
(Reza dan Satria dengan mimik
senang)
Reza : “Mampus tuh anak, gue rasa
dia hari ini juga bakal di Drop Out dari sekolah!”
Satria : “Yo’i, men… si Mona pasti
bakal berhasil jebak Arkan.”
(Kansas tertawa kompak. Suara
ketukan pintu, Mona masuk dengan mimik kecewa)
Robby : “Sorry bro, kita gagal…!
Tadi pas gue jebak dia buat buka tas-nya.. Rokok and narkobanya, NIHIL!!!Alias
gak ada bro..!”
Reza : “Apaaa????”
Satria : “jangan-jangan. Si Arkan
sudah tau? And bungkusan itu sudah cepet-cepet dia buang?”
Reza : “Sialan!!!cara yang kedua
gagal..”
Satria : “Gue curiga…”
Mona : “Curiga kenapa, Sat?”
Satria : “tadi lu semua lihat
gak?pas kita keluar dari kelas, si Furqan melirik ke kita terus.”
Reza : ”Gue gak lihat!”
Mona : ”gak liat!”
Satria : “lalu, lo semua sadar gak?
Rencana pertama kita gagal juga karena Furqan?” (meyakini)
Mona : ”Kebetulan kali”
Reza : ”Tunggu… yang diomongin
Satria ada benarnya juga. Jangan-jangan Furqan sudah tahu rencana kita”
Mona : ”yakin lu????”
Reza : ”kita lihat saja nanti.”
Mona : ”Oh ya, nanti sore ada
latihan teater. Arkan ikut latihan teater, gimana kalau kita beraksi pas dia
latihan, setuju gak men?”
Satria : ”Setuju banget, untuk kali
ini gak ada si Furqan! Kita harus ngapain, bos?”
Reza : (berpikir) ”Gue gak ada ide.”
Mona : “Hajar aja langsung, kita
sekap aja dia di gudang.”
Reza : ”itu artinya kita bunuh diri!
Nanti dia malah laporkan kita ke guru.”
Mona : ”Kita bisa pakai topeng,
coy..! Gimana, setuju?”
Satria : ”Yaul setuju, bro”
Reza : ”ok, ide bagus.”
(mereka semua tertawa sinis)
Adegan 14
Setting : Halaman depan sekolah,
Jalan raya, pantai
(Arkan, Gilang, Furqan, dan Lukman
berjalan di Halaman depan sekolah)
Gilang : “Arkan, Ngomong-ngomong
tadi si Mona ngapain nyuruh buka tas kamu?”
Arkan : “Katanya pulpen
kesayangannya hilang pas dia minta ajarin Fisika, kemarin. Kata dia, mungkin
kebawa sama aku. Tapi nyatanya gak ada toh..”
Gilang : “Oh, gitu.”
Furqan : “Jadi kan?ke pantai?”
Lukman : “Pantai?memang ada apa?”
Arkan : “kata Guru Biologi kita,
suruh bawa contoh populasi tanaman disekitar pantai.”
Furqan : “Sekalian aku juga ingin ke
pantai, mau ikut?”
Lukman : “Wah, asyik tuh…!”
Gilang : “Kelas kamu gak disuruh bawa
tanaman pantai, ya?
Lukman : “Di kelas kita penjelasan
materi, lagi pula Pak Rudi sendiri yang bawa tanaman itu.”
(mereka tiba di parkiran motor.
Gilang dibonceng oleh Arkan, sedangkan Furqan dibonceng oleh Lukman. Di tengah
perjalanan, Furqan merenungi kejadian yang ada di sekolah disaat Kansas
memasuki barang haram di tas Arkan, dan dia bersukur bisa menghentikan fitnah
dari Kansas untuk Arkan. Dan mereka tiba di pantai, Gilang dan Arkan berpencar
mencari tanaman. Arkan ditemani Furqan, sedangkan Gilang ditemani Lukman)
Arkan : “Wuih, panas bro..”
Furqan : “Tapi asyik juga. Aku suka
dengan pantai, indah, sejuk, tentram dihati. Rasanya ini untuk terakhir kali
aku berkunjung ke pantai.”
Arkan : “Ngomong itu lagi,, nanti
tiap libur sekolah kita ajak yang lain buat holiday in the beach, ok?”
Furqan : “Ide bagus.”
(Arkan terus mencari, sedangkan
Furqan duduk di pesisir pantai sembari menikmati pemandangan sekitar pantai)
Arkan : “Yes, akhirnya dapat nih,
lumayan lah…” (tersenyum bahagia)
(Furqan tersenyum dan dibalas oleh
Arkan dengan ssenyuman pula. Arkan duduk di samping Furqan)
Arkan : “Furqan, aku boleh tanya?”
Furqan : “Tanya apa? Tanya aja
lagi…” (tersenyum)
Arkan : “Ada yang kamu sembunyikan
tentang aku?”
Furqan : “Wuih, GR… Gak ada kok..”
Arkan : “Beneran?”
Furqan : “Kenapa kamu tanya begitu?”
Arkan : “Hemmpp, gak apa-apa si..
Cuma tanya..” (tersenyum)
(Furqan merenung dan berbicara dalam
hati)
Furqan : Maaf Arkan, aku tidak
mau membuat kamu cemas. Walau geng Kansas akan menyerang kamu, insya allah aku
pasti akan jaga kamu, sahabat…
Arkan : (Arkan melihat Furqan
merenungi sesuatu) “Kok melamun?”
Furqan : (Furqan menanatap pantai
dengan pandangan kosong sembari tersenyum) “Walau terkadang dunia menyerangmu,
walau dunia memusuhimu, walau dunia membencimu, walau dunia mengucilkanmu. Tapi
ingat, satu hal yang perlu kamu tahu,.. bahwa kamu tidak sendiri, kamu punya
seseorang yang dapat menemani kamu dalam suka maupun duka, dalam keramaian
maupun kesendirian, dalam kesenangan maupun kebencian. Tahukah kamu siapakah
itu?” (melihat Arkan)
(Arkan hanya melongok ke Furqan)
Furqan : “Tuhan, Orang Tua, dan
Sahabat. Kita berharap kepada tuhan, agar orang tua kita diberi kesalamatan
dunia akhirat. Mereka yang telah membesarkan kita, merawat kita tanpa pamrih,
cinta dan kasih sayang yang tulus mereka berikan untuk kita. Kita tidak ingin
kehilangan orang tua, kita masih butuh orang tua, kita gak boleh sia-siakan
kepercayaan mereka.. ” (Furqan mulai meneteskan air mata tetapi dengan perasaan
tegar)
Arkan : “Furqan?” (memegang pundak
Furqan dengan iba)
Furqan : “Semua itu sama halnya
dengan seorang sahabat… Sahabat merupakan salah satu anugrah terbesar yang
diberikan Tuhan untuk kita. Sahabat akan saling menjaga, sahabat akan saling
mengerti. Tapi ingat, sahabat juga pasti punya kesalahan… Apabila aku punya
kesalahan mohon maaf ya, jangan sampai kesalahan yang pernah aku lakukan
membuat kita terputus tali persahabatan..”
(Arkan hanya melihat heran ke
Furqan)
Furqan : “Heh, kok nglamun toh? Ada
yang salah ya?”
Arkan : “Oh gak, gak.. (tersadarkan)
Aku kagum sama yang telah kamu ucapkan. Yo’i, semoga persahabatan kita seperti
apa yang kamu ucapkan.” (tersenyum dan merangkul Furqan)
Furqan : “nanti sore mau latihan
teater toh? Ya sudah, ayo pulang ”
Arkan : “Ok, kita cari Gilang sama
Lukman.” (melihat Furqan)
Furqan : “Gak usah dicari, tuh
mereka sendiri yang datang kesini.”
Arkan : “Oh iya.”
(Gilang mendekati Arkan dan Lukman
mendekati Furqan)
Gilang : “Gimana?”
Arkan : “Nih.. (menunjukan tanaman
di genggaman Arkan) Lumayan dari pada lumanyun., hehe”
Gilang : (menepuk pundak Arkan)
“Yuh, kita pulang, nanti sore kita ada latihan teater.”
(mereka berjalan meninggalkan
pantai. Furqan berjalan dibelakang teman-temannya sembari melihat ke pantai,
dan tersenyum mengucapkan “Selamat tinggal” kepada dirinya sendiri)
Adegan 15
Setting : Aula, Gerbang belakang,
kantin, Koridor dan Gudang.
(Pada sore hari, di aula sedang
latihan teater penampilan anak-anak di kelas, Arkan hanya menonton ditemani
dengan yang lain)
A : ”Pak Guru…. gawat Pak, gawat…”
B : “Ada apa ini? Kenapa kamu baru
masuk, heh??
A : ”Ada hal penting yang harus
diselamatkan sekarang juga pak, menyangkut kehidupan berbangsat. Eh, maksud
saya berbangsa dan bernegara. Kita harus segera menyelamatkan ini pak, kalau
tidak berdampak amat sangat super duper dahsyat sekali…”
B : (bengong) apa itu?”
A : “Tidak pak, nanti saja… sekarang
lebih baik kita kesana, ayo kita kemon!!”
C : ”weh, kamu nyindir aku doraemon
ya? Kurang ajar.”
Anak-anak : ”Kemon!!!! Doraemon…..”
(serempak)
B : “Oah…. sudah-sudah.. Ayo kita
ikuti orang utan ini.”
A : ”Bapak?” (terkejut)
B : ”Aduh… maksud saya orang ini…
Hayu…”
(disisi lain, Arkan pamit pada ketua
teater untuk ke toilet)
Arkan : ”Mba, aku ke toilet dulu
ya…?”
(diizinkan)
(Arkan memasuki toilet dekat kelas
XI IPA, hal ini diketahui oleh geng Kansas yang berada di Gerbang belakang
untuk menyerang Arkan. Tak ayal, perilaku Geng kansas ini pun diketahui oleh
Furqan, yang mengawasinya dari balik tembok menuju kantin belakang)
Reza : ” Akhirnya, ini adalah kesempatan
kita! Cepat pakai topengnya” (menyuruh Satria)
(Tanpa disadari Furqan, ia diketahui
oleh Mona, yang berada di belakangnya)
Mona : ”Tunggu, bos…” (sedikit
berteriak)
(Kansas mendengar teriakan Mona,
Mona tersenyum picik pada Furqan dan serta merta di dorong tubuh Furqan oleh
Mona sehingga ia terjatuh dan terlihat oleh teman Kansasnya)
Reza : ”sialan!!!!” kita ketahuan.”
(Satria dengan lekas melipati tali
pada tangan Furqan dengan posisi tangan kebelakang, dan Mona bergantian
mengawasi Arkan yang berada di dalam toilet)
Satria : ”Lo ngapain ngintip kita,
heh???”
Furqan : ”Perilaku kalian harus aku
cegah.” (jawab dingin oleh Furqan)
Reza : “So, alim lo…!” (menampar)
(Mona memperhatikan Arkan dari balik
tembok gerbang belakang)
Mona : “Men, si Arkan sudah keluar.”
(Furqan dengan lekas berteriak)
Furqan : “ARKANN..!(teriakan
pertama) Ar…”
(belum selesai teriakan kedua,
Furqan dipukul dengan keras hingga pingsan)
Reza : ”Sialan ini, anak!”
(Disisi lain, Arkan menengok ke arah
sumber suara, dengan mimik penasaran. Perlahan ia membalikan badan dan segera
berjalan perlahan mendekati suara yang seperti memanggil namanya. Beberapa
langkah berjalan, Arkan disapa oleh Gilang)
Gilang : ”Arkan!!! Lama sekali dari
toilet, beser ya?” (cengengesan)
Arkan : ”Oh kamu, lang… Oah… ya
sudah ayo kita ke aula lagi.”
(Arkan dan Gilang kembali ke aula,
sedangkan keadaan di daerah gerbang belakang, Satria sedang memegangi Furqan
yang pingsan dan dibiarakan di lantai, Reza berdiri depan Furqan, lalu Mona
yang berada tepat di balik tembok pasca mengintipi Arkan)
Mona : ”dia sudah pergi”
Satria : ”Kita apain anak ini? Dia
sudah lihat kita, dan mungkin dia bakal ngancam kita ke guru.”
Reza : (berpikir keras) ”Ok, kita
sekap dia di gudang.”
(geng kansas dengan segera mengikuti
komando Reza. Furqan di seret tak sadarkan diri menuju gudang. Setelah sampai
di gudang, Furqan diikat dengan tali ke bangku, dimasuki kain kedalam mulutnya,
dan diplester mulutnya. Reza tersenyum melihat kondisi Furqan)
Reza : ”Hemp, aku punya ide.”
Satria : ”Ide apa bos?”
Reza : “Akan aku jadikan Furqan
sebagai sandera buat menjebak Arkan.” (tersenyum licik)
Adegan 16
Setting : Aula (sedang latihan
teater)
Lukman: “Si Furqan, kok gak datang
ya?” (khawatir)
Arkan : “Dia kan gak ikut teater?”
Lukman: “tapi dia mau nonton latian
teater ini.”
Gilang : ”Mungkin lagi sibuk, karena
ada tugas sekolah, atau mungkin juga tugas rumah numpuk.”
Lukman: ”Mungkin.” (tetap khawatir)
Adegan 17
Setting : Gudang
(Furqan terikat tak berdaya duduk di
kursi kayu, mulut tak bisa bersuara karena penuhnya kain yang ada di dalam
mulutnya, gerakan kaki dan tangannya pun tak bebas karena saking kuatnya ikatan
tali. Furqan terus berontak tetapi tidak ada hasilnya sama sekali, yang ada ia
hanya menangis lirih.)
Furqan : Tuhan… ujian apa lagi
yang akan engkau berikan pada hamba-Mu yang lemah ini… inikah jalan hidup yang
harus hamba lalui? Inikah ya Tuhan? Ya tuhan, hamba ikhlas terima semua ini,
pastilah engkau akan memberikan hikmah disetiap cobaan. Pastilah Engkau akan
memberi petunjuk kepada mereka yang terseseat. Engkau Ada ya Tuhan, Engkau Maha
melihat kami…. ciptaan-Mu….
(Tak lama kemudian suara azan
berbunyi, dia melihat jam yang ada di tangannya yang sudah menunjukan pukul
18.00.)
Furqan : Sudah jam 6 sore, aku
harus sholat. (melihat sekitar ruangan) oh ya, aku bisa tayamum walau
dengan badan yang terikat, tapi aku harus menjalankan kewajiban ini.
(Furqan dengan lekas bertayamum dan
sholat. Setelah sholat ia kembali menangis. Furqan teringat semua kenangan pada
masa kecilnya ketika bersama ibunya yang tercinta.)
Furqan : ibu…. (menangis)
Adegan 18
Setting : Rumah Arkan dan rumah
Furqan
(kamar tidur Arkan)
Arkan : “hehm, apa Furqan
benar-benar sibuk ya? (berpikir sejenak) Aku telepon saja, barangkali saja dia
butuh bantuan.” (berbicara kepada diri sendiri)
(Arkan menekan Hp, dan segera
menelepon ke rumah Arkan, di rumah Arkan telepon terus berbunyi tanpa ada
seorang pun yang mengangkat)
Arkan : ”Kok gak diangkat ya?
Mungkin benar-benar gak bisa diganggu. Sudahlah, biar besok aku temui dia.”
(beranjak tidur, menarik selimut,
dan…) “Zzzzz” (tertidur)
Adegan 19
Setting : Koridor dan kelas
Arkan berjalan menuju IPA 2, dia
disapa oleh beberapa temannya. Arkan sesekali menyapa temannya. Ketika tiba di
kelas IPA 2, dia langsung mencari Furqan dan ternyata tidak ada. Arkan
menghampiri Lukman)
Arkan : ”Assalamualaikum Lukman,
Furqan hari ini masuk sekolah?”
Lukman: ”Dia hari ini gak masuk, gak
ada surat pula… Biasanya kalau izin dan sakit dia pasti bikin surat. Tapi
jarang sekali ia tidak masuk sekolah)
Arkan : ”Oh begitu ya,, ya sudah,
kalau kamu melihat Furqan, tolong kabari aku, ya?”
Lukman: ”Ok.”
(Arkan keluar kelas, genk kansas
tersenyum melihat mimik Arkan yang khawatir, Anisa pun merasakan kecemasan yang
terlukiskan dalam mimik wajahnya)
Adegan 20
Setting : ruangan anak nongkrong
(genk kansas merasakan kepuasan)
Reza : ”sekarang saatnya arkan kita
serang habis-habisan.”
Mona : ”Lalu kita harus apakan si
Furqan, bos?
Satria : ”Bro, gue punya ide. Undang
saja geng centil Mozart buat godain Furqan,. Gue muak sama sikap Furqan yang
sok alim!!!”
Mona : “Bener juga tuh, si Furqan
pasti ikut tergoda coy!! Nanti saat Furqan dan geng Mozart beraksi, kita Fhoto
saja mereka, dan kita ancam Furqan pake Fhoto itu untuk tutup mulut. Pastinya,
dia bakal takut di DO dari sekolah ini. Dia kan dapat beasiswa dari sekolah
ini.”
Reza : “otak lu semua memang pada
encer. Gue terima ide kalian. Tapi sasaran kita ini bukan Furqan! Sasaran kita
adalah si Curut Arkan…!”
Satria : ”Lalu bagaimana kita mulai
serang Arkan?”
Mona : ”Gimana kalau kita permalukan
di depan umum?”
Satria : ”Yaul, tapi bagaimana
caranya bro?”
Mona : “kita telanjangi saja dia,
dan kita ikat di pohon sekolah. Lumayan tuh, pemandangan, heheh”
Satria : ”Itu si mau loe…! Tapi ide
bagus tuh, yang pastinya kita gunakan topeng.”
(mereka semua tersenyum sinis)
Adegan 21
Setting : Mushola
(Anak-anak perempuan berjilbab
sedang mendengarkan tausiyah dari Aisyah)
Aisyah : (menjelaskan nasihat
tentang persahabatan hakiki)
(setelah selesai, semua saling
bersalaman, dan keluar. Aisyah mengajak Anisa mengobrol, Reyhan pun ikut
menemani)
Aisyah : ”Aku bukannya untuk ikut
campur dalam permasalahan kalian, tetapi alangkah lebih baiknya kita saling
mencurahkan hati. Insya allah solusi terbaik akan aku berikan untuk kalian.”
(mengucapkan kata demi kata dengan halus)
Anisa : ”maksud mba Aisyah?” (heran
dan menatap Aisyah dengan penuh tanda tanya)
Aisyah : ”Aku tau, dari raut muka
kalian. Tampaknya kalian memendam masalah yang serius.”
Reyhan: ”kenapa mba bisa tahu?”
Aisyah : ”Firasat orang beriman ada
benarnya.” (tersenyum ramah)
(Anisa menunduk, Reyhan melirik
Anisa)
Anisa : ”Geng Kansas, mba..”
Aisyah : ”Geng Kansas? Ada apa
dengan mereka?”
Reyhan: ”Mereka ingin menyerang dan
memfitnah Arkan.”
Aisyah : ”Tapi setau saya, Arkan
baik-baik saja.”
Anisa : ”Itu karena Furqan yang
selalu melindungi Arkan, dan saat ini Furqan tidak masuk sekolah tanpa
keterangan. Kita khawatir mba…” (Anisa mengusap air mata yang perlahan
membasahi pipinya)
Aisyah : ”Apakah kamu memendam
perasaan kepada Furqan?”
(Anisa hanya menunduk tak menjawab)
Reyhan: ” menurut mba Aisyah,kita
harus bagaimana?”
Aisyah : ”Lebih baik, dinginkan
dahulu pikiran kalian. Pertama periksa ke rumah Furqan, mungkin dia sedang
sakit dan tak ada yang mengantarkan surat izin ke sekolah.”
Reyhan: ”Temani kami, ya mba…”
Aisyah : ”Insya allah, lebih baik
kita kerumah Furqan sekarang.”
Reyhan: ”terima kasih mba.”
Adegan 22
Setting : kantin
(Arkan dan Gilang sedang memakan
bakso)
Arkan : “Aku heran, seharian ini,
aku tidak melihat Furqan, kemana ya..?”
Gilang : ”Sudah telepon ke
rumahnya?”
Arkan : ”Kemarin malam aku telepon,
tapi tidak ada yang mengangkat.”
Gilang : ”Kita kesana saja. Besok
tidak ada tugas dan PR, jadi hari ini aku bisa santai dan bebas dari pelajaran”
(girang kekanak-kanakan)
Arkan : ”pak, bakso sebungkus ya.”
(kepada penjual bakso)
Pak bakso: ”campur de?”
Arkan : “Iya pak, sambalnya dipisah
ya.”
Gilang : ”masih laper toh?”
Arkan : ”bakso itu buat Furqan, dia
doyan banget sama bakso.”
Gilang : ”Ouw.. Oh ya, arkan.. aku
ingin cerita sesuatu tentang perasaan aku, boleh?”
Arkan : ”Gilang? Kamu naksir aku?”
(ledek Arkan)
Gilang : ”wehhh, enak ajaa… huuu..”
Arkan : ”Curhat apa, lang?”
Gilang : “Jujur, aku ngerasa sekali,
bakal terjadi apa-apa dengan kamu. It’s my feeling”
Arkan : ”maksud kamu?”
Gilang : ”aku khawatir sama kamu,
entah karena apa?”
Arkan : ”Tenang saja, aku kan punya
sohib yang bisa menjagaku.” (menepuk pundak gilang)
Gilang : ”Aku bukan baby sister lu
kali…” (ledek Gilang)
(Arkan dan Gilang tertawa akrab)
Pak bakso: “ini mas.” (memberi)
Arkan : “berapa semuanya pak?”
(bersiap-siap untuk beranjak pergi)
Pak bakso: “7500”
Arkan : “Makasih pak.”
(Arkan dan Gilang pergi untuk menuju
rumah Furqan)
Adegan 23
Setting : Gudang
(Koridor sekolah sepi, geng Kansas
menuju gudang tempat Furqan disekap. Mereka masuk pintu gudang dengan
mendobraknya. Mirip birdistib pada saat di MOS, Furqan menunduk)
Reza : ”HEH…!!! CUNGUK…!!! BANGUN
LO…!!” (menjambak rambut Furqan)
(Furqan terbangun dan merasakan
kesakitan)
Mona : ”Manja! sok ALIM LO!”
Satria : ”Coy, lo sudah nelpon Geng
Mozart buat ke sini?” (tanya Roni kepada Satria)
Mona : ” Udah bro, tenang saja.”
(Reza terus mengolok-olok Furqan)
Reza : ”heh, cunguk! Ingat ya,
sekarang lo gak bisa ngapa-ngapain lagi…! Bentar lagi, lo bukan anak alim lagi,
anak BEJAD!!!!” (tersenyum senang)
(semua pun akut tertawa licik,
sedangkan Furqan menangis tak berdaya)
Satria : ”Cengeng lo!! BANCI!!!!”
(menampar Furqan)
Mona : ”Eh bro, geng Mozart sudah
datang.”
Reza : ”Suruh mereka masuk, dan kalian
keluar…” (kepada Mona dan Satria)
(Duo geng Mozart, datang dengan
tersenyum yang sinis dan menggoda)
Reza : ”Hei, guys!”
Mozart : ”Hei cowok…!”
Reza : ”Tugas lo disini, layani si
Furqan! Gue yang bayar kalian! Terserah si cunguk itu mau kalian apakan.
(menunjuk Furqan) Tapi jangan lupa, kalian fhoto aksi kalian dengan Furqan!
Ok?” (tersenyum remeh)
Mozart : ”Dengan senang hati,
Reza….”
Reza : ”Gue pergi dulu… selamat
bersenang-senang.. hahahaha!!!!” (melihati Furqan)
(Reza keluar dengan rasa puas, Furqan
berontak tetapi tak ada hasil, sedangkan Mozart mulai beraksi. Dengan perlahan
pintu tertutup)
Adegan 24
Setting : Dekat lingkungan rumah
Furqan
(Anisa, Reyhan, dan Aisyah berjalan.
Perjalan hampir tiba ke rumah Furqan, tiba-tiba Anisa jatuh lemas dan menangis.
Aisyah dan Reyhan khawatir dan segera membantu Anisa)
Aisyah: ”Anisa, kenapa? sudah jangan
menangis. Cepat hapus air matamu, insya Allah dia tak akan apa-apa. Sebentar
lagi kita akan tiba ke rumah Furqan.”
Reyhan: ”Anisa, kita semua berdoa
semoga ia akan baik-baik saja.”
Anisa : (menangis terisak-isak) ”
Aku tak kuat lagi, mba.. Rasanya hati ini sakit…”
Aisyah : ”Astagfirullah.. Nis,
istigfar.. (menenangkan Anisa) Reyhan, coba kamu periksa rumah Furqan. Aku akan
menjaga Anisa disini.”
Reyhan: ”Baik mba.”
(Reyhan dengan segera mengikuti
perintah dari Aisyah untuk mendekati rumah Furqan yang tak jauh dari tempat
mereka berada. Saat tiba di depan rumahnya, Reyhan lekas mengetuk pintu)
Reyhan: ”Assalamualaikum Furqan,
Furqan? Furqan? Assalamualaikum…” (berkali-kali Reyhan mengetuk pintu)
(Tak ada reaksi sama sekali dari
rumah Furqan, yang ada hanya reaksi dari tetangganya.)
Tetangga: ”Maaf mba, de Furqan nya
sedang tidak ada di rumah.”
Reyhan: ”Permisi bu, kira-kira
Furqan kemana ya bu?”
Tetangga: ”Saya tidak tahu, tadi
malam juga lampu rumah de Furqan tidak menyala. Ini tidak seperti biasanya.”
Reyhan: ”terimakasih banyak ya, bu…”
(Reyhan khawatir dan segera kembali
menemui Aisyah dan Anisa. Reyhan melihat Anisa masih menangis menahan sakit)
Aisyah : ”Gimana?” (bahasa isyarat
dan sedikit berbisik agar tidak diketahui Anisa)
(Reyhan hanya menggelengkan kepala)
Aisyah : ”Ya Allah, apa
jangan-jangan..? Astagfirullah, aku gak boleh berprasangka buruk.”
(Reyhan bingung, dari kejauhan Arkan
dan Gilang datang. Arkan mempercepat langkahnya, ketika ia lmelihat Anisa jatuh
terkulai di pinggir jalan. Diikuti oleh Gilang. Arkan sangat khawatir)
Arkan : ”Ya ampun, ada apa dengan
Anisa, mba?” (bertanya dengan perasaan khawatir pada Aisyah yang sejak tadi
menahan pundak Anisa di tangannya)
Gilang : ”Kita bawa saja ke tempat
teduh, kebetulan kami mau ke rumah Furqan. Ayo kita bawa Anisa kesana.”
Adegan 25
Setting : Teras rumah Furqan
(Aisyah dan Reyhan meletakan Anisa
di teras rumah, kali ini Anisa pingsan)
Aisyah : ”Astagfirullah,. Anisa
pingsan.” (memegangi nadi di tangan dan kening Anisa dengan perasaan cemas)
(Reyhan mendekati Anisa, sedangkan
Gilang mencoba mengetuki pintu rumah Furqan)
Reyhan : ”Gilang, percuma. Tak ada
orang di dalam rumah.”
(Gilang berhenti mengetuki pintu
rumah Furqan)
Arkan : ”Sebenarnya apa yang
terjadi?”
Reyhan : ”Apa yang terjadi? Kamu
masih sempat tanya itu? Kamu sadar gak? Kalau semua ini karena kamu!!”
(Reyhan membentaki Arkan. Gilang dan
Arkan terkejut melihat perilaku Reyhan)
Aisyah : ” Reyhan, sabar Reyhan…”
(menenangkan Reyhan)
Reyhan : ”Astagfirullah..” (menunduk
dan kembali mendekati Anisa yang terkulai pingsan)
Arkan : ”Demi Allah, aku tidak
mengetahui sama sekali, apa yang kamu maksud, Reyhan.”
Aisyah : ”Begini Arkan, kami sekarang
tidak mengetahui keberadaan Furqan. Semenjak Furqan menghilang, kami merasa
khawatir, dan Anisa pun merasakan sakit hatinya. Sebenarnya, sebelum semua ini
terjadi. kamu berada dalam masalah dengan geng Kansas, mereka ingin menyerang
dan memfitnah, tetapi….” (menghentikan perkataannya)
Arkan : ”Tetapi apa mba?”
Aisyah : ”Furqan selalu dan selalu
menyelamatkan kamu dari fitnah tersebut.”
Reyhan : ”Dan kami khawatir, Furqan
nekat mengorbankan dirinya hanya untuk kamu. Dia tak ingin kamu terluka oleh
orang lain, saat itu Anisa sangat khawatir dengan Furqan. Seakan batin ia dalah
batin Furqan sendiri.”
(semua hening tanpa kata meratapi
nasib)
Adegan 26
Setting : Rumah Arkan dan Rumah
Anisa
(Di kamar Arkan, Arkan merenungi
perkataaan Aisyah dan reyhan saat di rumah Furqan, ia juga merenungi perkataan
Furqan saat mereka mengobrol di pantai)
Furqan : Maafkan aku, Furqan
(Sedangkan di kamar Anisa ia
menangis sejadi-jadinya. Ia tidak memperdulikan panggilan ibunya yang sejak
dari tadi mengetuk pintu kamarnya)
Adegan 27
Setting : Kelas XI IPA 2
(Arkan berjalan, dengan langkah
cepat dari IPA 7 hingga IPA 2 tanpa menghiraukan orang yang menyapanya. Disisi
lain Reyhan sedang menenangkan hati Anisa di kelas XI IPA 2.)
Reyhan : ”Anisa? (memegang tangan
Anisa) Ya ampun, Anisa. Badanmu panas sekali. Lebih baik kamu istirahat di UKS”
Anisa : (Anisa hanya menggeleng)
”Terimakasih, Reyhan” (jawab ia dengan lemas)
(Arkan tiba di IPA 2, dia melihat
Geng Kansas sedang duduk di pojok kelas. Dia tak melihat Furqan dikelas, Arkan
langsung beranjak mendekati reza, setelah mendekatinya, kerah baju Reza ia
angkat)
Arkan : ”Heh, pecundang. Kalian
kemanakan Furqan? Jawab!!!!”
(bentak Arkan sehingga semua siswa
melihat ke arahnya. Termasuk Reyhan dan Anisa. Anisa menahan tangis, dan tiba-tiba
ia terjatuh pingsan)
Reza : (Menepis tangan Arkan) ”Sante
aja bro, ngapain lu tanya gue? emang gue culik Furqan apa? haha, heh, inget ya,
gue gak demen sesama jenis. Gue bukan LO yang demen sama cowok…. BANCI LO…!!!!”
(Seketika Arkan memukul muka Reza.
Mona menahan Reza, Satria mendorong Arkan, dari luar datang Gilang dengan
tergesa-gesa, dan dengan lekas Gilang membawa Arkan keluar dari kelas dengan
menariknya)
Reza : ”Heh,, liat saja pembalasan
dari gue..” (tersenyum licik)
Adegan 28
Setting : Kelas XI IPA 7
(Arkan menundukan kepala, di atas
tas yang berada di mejanya, sedangkan Gilang dengan mimik yang serius dan
terlihat kesal.)
Gilang : ”Kamu ini, apa-apaan sih?
Kamu mau berurusan sama Guru?”
(Arkan menunduk dan terdiam tanpa
suara)
Gilang : ”kamu memang pintar di
pelajaran, tapi kamu itu bodoh dalam penyelesaian masalah!! Kamu kan bisa
ngomong dengan cara yang baik?”
(Arkan tetap terdiam)
Gilang : ”Coba, kalau kamu…”
Arkan : (memotong perkataan Gilang)
” CUKUP….!!!!! CUKUP…!!!!!! PERGI SANA.. PERGI..!!!!!”
(Dengan emosi yang tinggi Arkan
mengusir Gilang, Gilang pergi dengan perasaan kecewa)
Arkan : ”Cukup sudah… aku tak
sanggup …” (menangis dan menunduk)
Adegan 29
Setting : Parkiran sepeda
(Arkan berjalan lemas dengan mata
yang sayu, tak lama kemudian Geng Kansas sudah berada di depan Arkan, dan Reza
berdiri tepat dibelakang Arkan dengan membawa tongkat. Dan ”BRUKKKK….”, Arkan
dipukuli dengan tongkat dari belakang)
Adegan 30
Setting : UKS
(Anisa terbangun dengan nafas yang
tidak teratur, disampingnya terdapat Aisyah dan Reyhan, mereka pun terkejut
oleh Anisa)
Aisyah : ”Anisa, ada apa? (khawatir)
Reyhan : ”Anisa tadi kamu pingsan..”
(memegangi tangan Anisa)
Anisa : ”Aku….” (gemetar)
Aisyah : ”Kenapa Anisa?”
Reyhan : ”Aku, apa?” (khawatir dan
penasaran)
Anisa : ”Aku mimpi…” (belum selesai
bicara, Anisa menangis dan menunduk)
Aisyah : ”Istigfar, nis.. Istigfar…”
(reyhan khawatir)
Anisa : ”Aku mimpi….. Furqan….
meninggal..”
Reyhan : ”Inallilahi..”
Aisyah : ”Itu hanya mimpi, Anisa…
tenang..”
Reyhan : (mengambil gelas) ”Lebih
baik kamu minum dulu.” (menyerahkan dan Anisa meminumnya) ”Hal ini tidak bisa
dibiarkan, kita harus lapor ke guru.”
Aisyah : ”Sekarang sudah sore, dan
besok hari Minggu. Sudah jelas tidak ada guru disekolah ini.”
Reyhan : ”Jadi kita harus menunggu
hari Senin untuk lapor ke guru?”
Aisyah : ”Apa boleh buat, tak ada
jalan lain lagi. Kita usahakan semampu kita dulu.”
Adegan 31
Setting : Ruang ganti teater
(Satria dan Reza dengan muka yang
sangat senang, dan pakaian seragam Arkan seluruhnya dipegang oleh Reza,
sedangkan Arkan dikurung diruang ganti tanpa busana)
Arkan : (dari dalam ruangan) ”Heii,
brengsek…!!!!! Balikin bajunya!!!”
Reza : ”Lu itu pantasnya gak usah
pakai baju, lo kan gak punya malu. Lo itu memang jijik. sama kayak teman lo,
Furqan! Teman lo sekarang ada di Gudang, dia gue sekap karena ELOO!!! Dasar
cunguk!”
Arkan : ”Brengsek lo….! Biadab!”
(menendangi pintu)
(Geng Kansas keluar dan membuang
seragam Arkan di tong sampah. Sedangkan Arkan tak berdaya dan duduk dipojok
ruangan, sembari meratapi nasib)
Arkan : (tiba-tiba dia mengingat
sesuatu) ”oh ya HP… (merogoh saku) sialan, bajuku ada di Kansas..!”
(Arkan melihat sekitar ruangan)
Arkan : ”Apa yang harus aku
lakukan?” (pasrah menunduk)
(saat menunduk dia melirik
kesampingnya terdapa tumpukan barang-barang)
Arkan : ”Ya ampun, ini kan ruang
ganti teater…?” (muka bahagia)
(Arkan mencari baju di tumpukan itu,
dan ia temukan pakaian yang lusuh)
Arkan : ”Alhamdulillah, ternyata
kostum pengemis ini masih disimpan di ruang ganti. Tapi?”
(melihat kondisi kostum yang tak
layak pakai)
Arkan : ”Bau apek sekali…” Ya sudah,
gak apa-apa… daripada kondisiku begini.”
(Arkan memakai kostum pengemis)
Arkan : ”Tinggal keluar dari ruangan
ini,,, (mendekati pintu) sialan dikunci! Apa aku dobrak saja pintu ini, ya?”
(Pada saat ingin mendobrak, Arkan
melihat dismpingnya ia temukan kunci)
Arkan : ”Kunci?jangan-jangan
kunci…?” (lekas mengambil dan mencoba satu per satu kunci untuk membukakan
pintu dan ternyata pintu dapat dibuka pada saat kunci yang ke-empat) ”Yes,
sekarang aku harus ke gudang!”
(pergi meninggalkan ruangan dengan
membanting pintu)
Adegan 32
Setting : Gudang
(Reza dan Satria berada di Gudang
bersama Furqan yang terikat)
Reza : ”hahaha, Arkan mana mungkin
bisa kemana-mana! Kita siksa dia perlahan-lahan…”
Satria : ”Benar bos, Arkan tak punya
nyali kalau sudah ditelanjangi.”
(Furqan melotot dan berontak)
Satria : ”Ngapain lu?? Gak suka??”
(tertawa ngejek)
Reza : ”Gak suka? heh, lu yang
enak.. Lu sudah di layani geng Mozart, kita sudah nyimpen aksi Fhoto lo! Lihat
nih.. lihat…” (tertawa mengejek)
(Furqan menangis)
Reza : (menyundul kepala Furqan) ”Eh
ingat ya, sekali lu melawan, Fhoto ini yang bakal berbicara…!”
Satria : (memegang dagu Furqan)
”Yah,,, cengeng nih anak..”
(saat Satria hendak memukul, Arkan
datang)
Arkan : ”BERHENTI….!!!!” (dengan
nafas terengah-engah)
Reza : ”Berhasil lolos juga lu, ya…
Hah? baju pengemis yang dia pake? Pinter juga lu ya…”
Arkan : ”Memang saya pintar.. Tapi
kalian yang BODOH..!!!! kalian ngurung saya di tempat kostum teater..!!!
cih….!” (mengejek Kansas)
Satria : ”Bener bos, tadi ruang
ganti teater.”
Reza : ”Kenapa gak bilang dari tadi,
oon!!” (menyundul Satria, Satria hanya menunduk)
(Seorang wanita muncul dari pintu,
dengan membawa tongkat ia adalah Mona)
Arkan : ”Sekarang.. gue bakal..”
(”BRUKKKK…” pukulan keras ke pundak
Arkan hingga terjatuh pingsan)
Reza : ”Kerja yang bagus..”
Mona : ”Tanpa uang, gue gak mau
melakukan hal ini…” (tersenyum)
(Satria menggotong Arkan dan
mengikatnya sama seperti kondisi Furqan. Mona ikut membantu mengikatkan. Furqan
berontak melihat Arkan pingsan)
(Setelah selesai mengikat Arkan)
Reza : ”Siram dia pake air..!”
(menyuruh Satria)
(Satria sigap mengambil botol air
didalam tasnya, dan menumpahkan tepat di muka Arkan hingga terbangun)
Arkan : ”Sialan… ” (dengan sura
pelan sembari berontak melepaskan tali yang mengikatnya)
Reza : ”Liat sobat mu ini….
(menunjuki Furqan) Cuma buat nolongi lo, dia rela ngorbani diri.. (pandangan
beralih ke Furqan) Kaciaan, lu laper ya… ckckck (kepada Furqan)
(Furqan tak bisa berkutik, dia
kelihatan lemas tak berdaya, Arkan empati melihat Furqan)
Arkan : ”Saya rela, kalian apakan..
ASALKAN LEPASKAN FURQAN, SEKARANG JUGA….”(bentak)
(semua tertawa mendengar ucapan
Arkan)
Reza : ”Heh.. lucu sekali… (tertawa kemudian
sinis kembali) Tapi gue bakal bikin hati lo sakit.. Teman-teman hajar Furqan!”
(Satria dan Mona mulai mempermainkan
Furqan. Satria melepaskan ikatan Furqan. Dan mereka tanpa hati mempermalukan,
menyakiti, mempermainkan, dan melukai Furqan. Sedangkan Furqan tak berdaya sama
sekali. Arkan berontak tetapi tak ada hasil karena tubuhnya terikat tali.)
Arkan : ”Lepaskan Furqan…!!!!!”
Lepaskan dia…!!! Kumohon!!!!!”
(Reza menampar Arkan)
Arkan : ”Tolong, lepaskan dia….”
(menangis)
Adegan 33
Setting : UKS, Aula
(Di UKS, kondisi Anisa semakin
gelisah)
Anisa : ”Mba, kita harus segera mencari Furqan..”
Anisa : ”Mba, kita harus segera mencari Furqan..”
Aisyah : ”Tapi kita harus pikirkan
dulu. Kita harus mencari kemana?”
(Anisa beranjak dari tempat tidur
UKS dan berlari keluar. Aisyah dan Reyhan mengikuti dengan cemas. Ada penjaga
sekolah di luar)
Penjaga : (berbicara kepada Reyhan)
”Loh mba? pada belum pulang ya?”
(Aisyah terus mengejar Anisa dan
menenangkannya, sedangkan Reyhan berbicara pada Penjaga)
Reyhan : ”Iya pak..”
Penjaga : ”Memang ada kegiatan
apa?tadi saya juga melihat Arkan.”
Reyhan : ”Arkan, Pak?”
Penjaga : ”Iya tadi saya lihat
Arkan. Kayanya dia sibuk sekali, tapi anehnya dia pakai baju seperti pengemis.
Bukankah dia orang kaya…?”
Reyhan : ”Arkan kemana pak?”
(penasaran)
Penjaga : ”Tadi saya lihat Arkan
menuju gudang. Ada apa?”
Reyhan : ”pak, tolong antarkan saya
ke gudang, saya mohon pak.”
Penjaga : ”Loh, kenapa mba?”
Reyhan : ”Antarkan saya pak…”
Penjaga : ”Baik-baik.. ayo!”
(Reyhan dan penjaga dengan segera
menuju gudang, Reyhan mengajak Aisyah dan Anisa. Anisa dan Aisyah mengikutinya)
Adegan 34
Setting : Gudang
(Di gudang Furqan berhenti
dipermainkan. Giliran Reza yang mengintrogasi Arkan dengan sinis)
Reza : ”Mulai saat ini, gue gak mau
liat lo berada di sekolah ini. Lo pantasnya jadi gelandangan, TAU GAK LO???
JAWAB….!!!!”
(Arkan hanya mengangguk ketakutan)
Reza : ”Sebelumnya, gue punya hadiah
untuk lu…” (mengeluarkan silet)
(Silet mendekati wajah Arkan)
Reza : ”Gue gak sudi, ketampanan lo
di puja-puja sama orang.” (tersenyum licik)
(Satria dan Mona, melihat aksi reza
dengan ngeri dicampur senang. Furqan menggelengkan kepala tanda berontak,
Furqan di tindih oleh Satria. Saat silet hampir menyentuh kulit.. Tiba-tiba….)
Penjaga : ”HENTIKAN ULAH
KALIAN…!!!!!”
(penjaga sekolah bersama Aisyah,
Anisa, dan Reyhan memasuki gudang. Mereka terkejut)
Reza : ”Sialan..!”
(Geng Kansas lari meninggalkan
ruangan. Penjaga membukakan tali Arkan, sedangkan tiga wanita mendekati Furqan)
Anisa : ”Furqan…. Furqan….”
(khawatir dan menahan air mata)
(tangan Anisa perlahan mendekati
wajah Furqan tetapi ditangkis secara perlahan oleh Aisyah. Arkan melihatnya)
Aisyah : ”Furqan!”
(Setelah tali Arkan terlepas. Arkan
segera mendekati Furqan dan menidurkannya dengan kepala Furqan yang berada pada
paha Arkan)
Arkan : ”Furqan.. kita sudah bebas.
Furqan bertahanlah… Maaf Reyhan, bisa tolong hubungi Ambulan?”
Reyhan : ”Ok.” (dengan cepat
memegang HP dan hendak menelepon)
Furqan : ”Jangan…” (dengan suara
parau)
(semua perhatian ke arah Furqan)
Furqan : ”terimakasih atas semuanya.
Sahabat, semua yang hidup pasti akan mati, semua yang kita miliki pasti akan
kita tinggalkan, tetapi hubungan persahabatan yang kita jalin pasti akan
berlanjut di akhirat kelak saat tuhan mempertemukan kita. (tersenyum lemah)
Jaga diri kalian baik-baik ya…”
(ketika Furqan berbicara, semua
melihat dengan perasaan sedih, semua menangis termasuk penjaga sekolah. Setelah
selesai pada ucapan terakhir, Furqan telah menghembuskan nafas untuk terakhir
kalinya. Arkan menangis memeluk Furqan, Anisa keluar ruangan dengan menangis,
Reyhan mengikutinya untuk menenangkannya dan memeluk Anisa. Aisyah menunduk,
sedangkan penjaga menunduk sembari mengusap air mata. Semua menangis haru pada
sore yang bersejarah ini)
Adegan 35
Setting : Jalan Wilis
(Geng Kansas berlari di jalan lurus
disamping sekolah)
Mona : ”Reza, gue gak mau tau.
Pokoknya lo yang harus tanggung jawab dengan semua ini!!!”
Satria : ”Gimana bos? kita sudah
ketahuan.”
Mona : ”Kita semua bisa di Drop
Out!”
Satria : ”Gue, gak mau kalo…”
Reza : ”CUKUPPP…!!!!! Gue mau kabur
dari kota ini, terserah kalian semua mau ngapain, itu bukan urusan gua..!”
(saat sampai dibelokkan, ada mobil
yang melintas. Mereka semua tertabrak dan tewas seketika)
Adegan 36
Setting : XI IPA 2
(Siswa IPA 2 serius mendengarkan
nasihat dari Pak Rudi, Arkan mendengar dari luar IPA 2)
Pak Rudi : ”Hari ini, kita telah
kehilangan empat teman kita yang amat kita cintai. terutama kita sangat
kehilangan sosok Furqan, pemuda yang baik hatinya, yang tulus dalam berteman,
dan menghargai arti dari sebuah persahabatan. Tragedi yang terjadi ini,
merupakan pembelajaran berharga untuk kalian. Dengan kekuasaan dan uang, orang
akan terjebak dalam kesenangan palsu yang sesaat. Rasa kesombongan dan
kebencian akan merugikan diri sendiri. tetapi satu pembelajaran mahal untuk
kalian, sebagai seorang sahabat, kita harus saling menghormati, menyayangi, dan
melindungi sahabat kita. Ingat, sahabat merupakan salah satu anugrah terbesar
dari Tuhan, untuk menemani dalam kehidupan kita. Ingatlah itu dengan baik.”
(Suasana Kelas menjadi damai, Anisa
dan Lukman merasa kehilangan.)
Adegan 37
Setting : Depan IPA 2
(Arkan duduk merenungi kejadian yang
telah berlalu, mengingat kenangan dengan Furqan. Dia terlihar lebih tegar
dibanding saat tragedi terjadi. Gilang dengan simpati mendekati Arkan)
Gilang : ”Arkan, maafkan atas
kesalahanku…”
Arkan : (mempersilahkan Gilang
duduk) ”Seharusnya aku yang minta maaf, saat itu aku benar-benar sedang emosi.
Maafkan aku juga Sobat, Kita adalah sahabat, apabila salah satu diantara kita
mengalami kesulitan, kita janji harus saling membantu, ok?”
Gilang : (tersenyum) ”terimakasih…
sahabat…..”
(Musik Penutup, dan menampilkan
cuplikan-cuplikan adegan)
~~~~~selesai~~~~~~